Masih tentang pegulat Kane! Semoga yang tanpa sengaja maupun sengaja telah tiba di postingan ini jangan marah ya?! Postingan pada blog ini mungkin cenderung ngelantur atau asal-asalan. Tetapi, pada dasarnya blog ini memang sudah demikian, diciptakan untuk membahas apapun itu yang terbersit di benak, dan mungkin juga bisa diartikan sebagai posting-posting (tulisan) yang tak memiliki nilai jual di media. Hahaha...
Oke, kembali fokus pada topik, yakni pegulat Kane. Semoga ini hanya kecurigaan yang tidak benar ya..., entah mengapa saya sering berpikir kalau tokoh Kane yang kini (Jacobs) dan tokoh Kane yang tampil pada tahun 90-an adalah dua orang yang berbeda. Ah, masak?! Masak ya di dapur... Hehehe...
Ya, begitulah yang saya rasakan sebagai seorang penggemar yang telah menyaksikan sejumlah penampilan Kane sedari belasan tahun silam. Kane sering mengenakan topeng untuk menutupi wajahnya, dan ada satu masa di mana--mungkin--sosok di balik topeng itu telah digantikan oleh orang lain. Alasannya?! Baiklah, saya akan menguraikan beberapa alasan yang membuat saya berpikir demikian.
Fisik Kane berbeda. Coba kembali saksikan video-video Kane pada tahun 90-an di Youtube, dan bandingkan dengan Kane yang kini. Sepintas tinggi badan mereka memang sama. Tetapi Kane yang dulu memiliki tubuh lebih kecil, terutama bagian bahu dan perut, tidak seperti Kane yang kini, terlihat lebih kekar dan buncit. Kejanggalan ini amat terasa, ketika Kane pertama kali muncul dengan baju tanpa lengan pada tahun 2000-an kalau tak salah. Saat itu Kane masih mengenakan topeng, dan belum pangkas botak. Dan pada saat itulah, mungkin pemeran di balik topeng telah berganti.
Kedua, yakni bentuk kepala. Kane yang dulu memiliki bentuk kepala yang lebih kecil, sementara Kane yang kini kepalanya besar dan bulat. Dari segi wajah juga--meskipun ditutupi topeng--Kane yang dulu wajahnya lebih lonjong, sementara Kane yang kini wajahnya terlihat lebar.
Stamina. Meskipun WWE hanya kisah ecek-ecek, tetapi tetap saja para pemain menguras banyak stamina di atas ring. Kane yang dulu memiliki fisik serta stamina yang lebih baik. Respon gerakannya lebih baik. Sedangkan Kane yang kini sering terlihat lelah, dengan nafas yang ngos-ngosan serta langkah kaki yang berat. Untuk yang satu ini, mungkin juga akibat pengaruh usia.
Jurus. Meskipun jurus-jurus yang digunakan masih sebagian besar sama, namun Kane yang dulu dan Kane yang kini sepertinya memiliki selera serta perhitungan yang berbeda dalam menggunakan jurus-jurus itu. Kane yang dulu cenderung menggunakan jurus (maaf, saya tak pernah menghafal nama-nama jurus) membalikkan kepala lawannya, kemudian berlutut dan menghantamkannya ke lantai. Jurus itu sangat dasyat, tetapi Kane yang kini hampir tak pernah menggunakannya. Demikian juga dengan jurus melompat dari tiang di sisi ring (lagi-lagi tak tahu nama jurusnya), meskipun dari dulu hingga kini Kane masih sering menerapkan jurus itu, tetapi kualitas dari jurus itu jelas berbeda. Kane yang dulu mampu naik di atas tiang itu cukup dengan satu kali lompatan dan sasarannya juga jarang meleset, sedangkan Kane yang kini terlihat sedikit berat untuk berada di atas tiang dan lagi seringnya malah meleset dari sasaran.
Gaya. Ketika hendak meledakkan pyro di atas ring, gerakan tangan Kane yang dulu lebih cepat daripada yang kini. Ada juga perbedaan ketika hendak mengakhiri pertarungan dengan menghitung satu, dua, tiga (sori, tak tahu juga nama gerakan itu disebut apa). Kane yang dulu menekan tubuh lawan dengan kedua tangan, Kane yang kini menarik sebelah kaki lawannya.
Kesimpulannya, saya berpikir bahwa Kane yang kini diperankan Jacobs--dan juga merupakan orang yang dulu memerankan si dokter gigi kurang waras, Isaac Yankem DDS--memang adalah orang yang sama, tetapi berbeda dari Kane pada masa 90-an. Ini hanya dugaan lo...
Kadang saya memang 'merindukan' The Big Red Machine di masa lalu dan gemar memutar video-video lama. Tetapi tetap saja Kane yang kini adalah Kane yang luar biasa! Terlebih setelah kembali mengenakan topeng dan semakin terlihat keren! Ah, macam masih anak-anak saja yang menulis postingan ini. Hahaha...
Ya, hitung-hitung blog ini sudah lama tak di-update, jadi iseng-iseng saja menulis yang ringan-ringan. Yang pasti untuk tulisan satu ini saya tak ingin repot-repot mengeditnya sana-sini. Biarkan saja apa adanya! B0l3h ju94 m3n99un4k4n b4h454 4l4y k4l4u m4u...
Foto: Kane pada tahun 2000-an
Jumat, 07 September 2012
Sabtu, 28 April 2012
Alan Dawa Dolma
Saya menunggu, menunggu, dan terus menunggu lama, berharap suatu hari nanti profil dari idolaku yang satu ini, Alan Dawa Dolma akan tampil di situs raksasa Wikipedia. Dan ternyata sudah beberapa tahun menunggu pun, profil Alan Dawa Dolma masih tidak ditemukan di sana, padahal pada Wikipedia Inggris dan negara lainnya sudah lama ada. Terakhir, daripada terus menunggu, saya memutuskan untuk bergerak saja, menjadi fans pertama di Indonesia yang memasukkan data Alan Dawa Dolma di Wikipedia (lebay).
***
Alan Dawa Dolma
| Alan Dawa Dolma | |
|---|---|
Alan di Tokyo Game Show 2008 | |
| Nama Tionghoa | 阿蘭•達瓦卓瑪 (Tradisional) |
| Nama Tionghoa | 阿兰•达瓦卓玛 (Sederhana) |
| Pinyin | Ālán Dáwǎzhuōmǎ (Mandarin) |
| Jyutping | A3laan4 Daat6nga5coek3ma5 (Kanton) |
| Leluhur | Khampa Tibetan |
| Asal | Kangding, Chengdu, Sichuan |
| Nama Lain | ཨ་ལན་ཟླ་བ་སྒྲོལ་མ་ (Tibetan) a lan zla ba sgrol ma (Wylie) Alan Dawa Dolma (THDL) Alan Dawa Dolma (Tibetan pinyin) |
| Pekerjaan | Artis, Penyanyi, Model |
| Genre | Pop Mandopop JPop Ethereal Wave |
| Instrumen | Erhu Piano |
| Label | Avex Trax |
| Tahun aktif | 2005 |
| Situs web | alan-web.jp |
Alan Dawa Dolma adalah seorang artis yang merupakan 100% keturunan Tibet. Semasa kecilnya dikenal sebagai seorang anak yang tomboi. Untuk membangun sisi feminin dalam diri Alan, kedua orangtuanya kemudian memutuskan untuk meminta Alan belajar bermain erhu sejak usia 8 tahun, dan juga berbagai pelajaran kesenian di bidang musik. Sampai saat ini, Alan telah menyanyikan berbagai lagu baik dalam bahasa China dan juga Jepang. Beberapa lagunya bahkan juga disandingkan dengan film-film layar lebar terkemuka seperti Red Cliff, Red Cliff II, dan juga film anime unggulan Jepang, Inuyasha. Salah satu ciri unggul yang membedakan Alan dari penyanyi lainnya ialah kelebihannya dalam mengolah dan menghasilkan suara nada tinggi yang tetap stabil.
Riwayat
Alan Dawa Dolma lahir di Kangding, Tibetan Autonomous Prefecture di Sichuan, tempat yang merupakan mayoritas penduduk etnis Khampa tinggal dan mencari nafkah. Alan dibesarkan oleh orangtuanya dengan dialek berbicara Kham Ke yang merupakan salah satu dari tiga dialek utama di Tibet. Keluarga Alan merupakan keluarga yang besar, ayahnya memiliki sepuluh saudara, sementara ibunya memiliki delapan saudara. Biasanya, setiap tahun baru tiba, mereka akan berkumpul untuk merayakan tahun baru bersama.Usia 20 tahun, berkarir menjadi seorang penyanyi di Jepang meninggalkan orangtua dan saudara, pada awalnya Alan mengaku cukup sulit untuk beradaptasi dalam keadaan dirinya yang tidak begitu menguasai Bahasa Jepang. Namun seiring waktu, kini Alan sudah cukup mampu untuk berkomunikasi dengan Bahasa Jepang. Hal tersebut dapat terlihat pada konser ketiganya pada 2011 lalu, Alan telah mampu berkomunikasi dengan para fansnya dengan Bahasa Jepang.
Di sisi lain, oleh para fans, Alan dikenal sebagai pribadi seorang artis yang santun, baik, sopan, dan juga jauh dari gosip-gosip negatif yang umumnya diterima oleh artis lain. Suatu ketika seorang pewawancara sempat menanyakan kesediaan Alan untuk mengikuti rute artis Jepang lainnya yang sedikit lebih berani dalam mengekspos diri dalam pemotretan-pemotretan seksi, terang Alan bahwa dirinya tak akan pernah bersedia untuk dipotret dengan hanya mengenakan bikini.
Nama “Alan” pada dasarnya bukanlah nama asli. Alan dilahirkan dengan nama “Dawa Zhuoma”--gadis surgawi bulan--yang diberikan oleh seorang pendeta Buddhis Tibet. Namun dengan berbagai pertimbangan, Alan kemudian menamakan dirinya “Alan” yang merupakan singkatan dari nama kedua orangtuanya, Atu dan Lantai. Alan mengaku tidak mungkin untuk menggunakan nama “Atu Lantai Dawa Zhuoma”, karena nama itu terlalu panjang untuk dicantumkan ke dalam paspor, maka kemudian diganti menjadi “Alan Dawa Dolma”.
Selain hobi di bidang tarik suara, Alan juga memiliki hobi memelihara anjing.
Karir
Pada awalnya (tahun 2005)--dengan niat membantu meringankan beban tanggungan orangtua--Alan sempat merilis sebuah album, "Sheng Sheng Zui Ru Lan" secara indie yang kemudian dikatakan berhasil terjual sebanyak 50,000 kopi, meskipun bukan album tersebut yang kemudian melejitkan nama Alan. Lagu-lagu yang dinyanyikan Alan dalam album itu merupakan lagu yang telah pernah dinyanyikan oleh penyanyi terkenal lain, seperti lagu; Shi Nian, Ni Dao Di Ai Shui, Tong Hua, Zui Lang Man De Shi, dan lain sebagainya.Oktober 2006, melalui 9th Asia New Singer Competition, Alan berhasil memenangkan peringkat kedua, kalah tipis (0,005 poin) dari Maria Donna Taneo yang berasal dari Pilipina. Sebelumnya, April 2006, Alan juga telah berhasil lolos dari audisi yang diselenggarakan oleh perusahaan rekaman terkemuka, Avex Trax yang diikuti oleh ribuan peserta.
Tahun 2007, setelah lulus dari China National Chinese Opera and Dance Drama Company dengan nilai yang memukau, Alan pun direkrut oleh Avex Trax, dan kemudian pindah ke Tokyo, Jepang. Pada tahun itu juga, Alan kemudian merilis single perdananya dalam bahasa Jepang, "Ashita e no Sanka" yang kemudian mulai mengilaukan nama sang penyanyi.
Tahun 2008, masih di bawah label Avex Trax, Alan merilis cukup banyak single baru, antaranya; Hitotsu, Sora Uta, Xin Zhan (ost. Red Cliff), Megumi no Ame, Natsukashii Mirai (Longing Future), dan juga beberapa lagu pendamping lainnya. Alan juga sempat merilis single dengan judul "Shiawase no Kane/Ai Jiushi Shou", yang kemudian total royalti dari penjualan single tersebut disumbangkan untuk korban bencana gempa di Sichuan.
Tahun 2009, melalui single "Kuon no Kawa" (ost. Red Cliff II), Alan juga berhasil menduduki posisi ketiga tangga lagu, yang merupakan pencapaian tertinggi dari artis asal China di Jepang, melampaui apa yang pernah dicapai oleh artis-artis asal China lainnya. Selain itu, Alan juga menetaskan tiga albumnya pada tahun tersebut, yakni; Voice of Earth, My Life, dan Xin De Dong Fang.
Tahun 2010 merupakan tahun di mana Alan pertama kalinya menyelenggarakan konser solo dengan tema "Voice of You" di Hitomi Memorial Hall, Tokyo, tanggal 24 Januari. Pada 2010 juga, Alan menetaskan album berbahasa Mandarin, "Lan Se: Love Moon Light".
Tahun 2011--setelah sebelumnya merilis album Japan Premium Best & More--bersamaan dengan berlangsungnya konser ketiga, Japan Premium Best & More Live 2011--juga di Hitomi Memorial Hall--kepada para fans, Alan menyatakan keinginannya untuk kembali ke China. Karir Alan sebagai seorang penyanyi dan juga model tidak berhenti sampai di sana. Setelah meninggalkan Jepang--dan hingga kini pun--Alan masih tetap menunjukkan eksistensinya di bidang tarik suara serta terlibat dalam berbagai kontrak pemotretan.
Album & Konser
Album Bahasa Jepang
- Voice of Earth (2009)
- My Life (2009)
- Japan Premium Best & More (2011)
Album Bahasa Mandarin
- Sheng Sheng Zui Ru Lan (2005)
- Xin De Dongfang (2009)
- Lan Se: Love Moon Light (2010)
Konser
- Voice of You (2010)
- Alan Symphony (2010)
- Japan Premium Best & More Live (2011)
Referensi
- http://pom-for-life.blogspot.com/2009/08/interview09-07-31-alan-i-will-never.html
- http://blog.budaya-tionghoa.net/figur/2011/08/13/alan-dawa-dolma-wajah-lain-dari-tibet
Pranala Luar
- Official Website (Japan)
- Official Blog (Japanese)
- Official Blog (Chinese)
- Alan Dawa Dolma di Sina Weibo
- Alan Dawa Dolma di Twitter
***
Halaman Wikipedia aslinya dapat dilihat di: http://id.wikipedia.org/wiki/Alan_Dawa_Dolma. Dan sebagai penutup dari postingan ini, silakan melihat-lihat beberapa karya ilustrasi dari fans Alan Dawa Dolma (fans art) yang saya kumpulkan dari berbagai sumber. Salah satunya (yang saya letakkan di paling bawah) adalah karya saya sendiri. Berdasarkan pengamatan saya yang belum tentu tepat, karya pertama dibuat dengan metode digital painting (sangat sempurna), yang kedua dengan cat air, dan yang ketiga saya pribadi mengerjakannya dengan digital painting (prosesnya bisa dilihat di sini). Berikut:
Jumat, 22 Juli 2011
Pegulat Kane
Tepatnya kapan saya tak ingat lagi--mungkin tujuh, delapan, atau bahkan sepuluh tahun silam--dunia sempat 'digilakan' oleh tayangan gulat seperti WWF, Raw is War, dan SmackDown yang ditayangkan oleh stasiun televisi StarSport luar negeri. Bahkan salah satu stasiun televisi Indonesia juga menayangkannya. Dari anak-anak seumuran saya di masa itu, hingga yang setua nenek saya juga gemar menonton gulat.
Namun trend menonton gulat tak bertahan lama di Indonesia. Pada dasarnya budaya berbicara, berbusana, dan bersikap yang ditawarkan oleh tontonan itu terlalu kontras dengan budaya Indonesia. Ditambah lagi bermunculannya kasus anak-anak yang bermain saling berkelahi menirukan gaya-gaya brutal pegulat idola mereka, tak butuh lama para orangtua pun melarang anaknya menonton gulat lagi.
Sebenarnya hal tersebut (dilarang nonton gulat) tak terjadi pada saya. Adapun itu hanya berupa nasihat. Lagipula, saya dan sepupu saya tak pernah bermain kasar meskipun kami sama-sama fans berat tontonan itu. Karena meskipun masih kecil, kami sadar dengan bermain kasar akan menyakiti kawan main yang lain. Dan kami sudah terbiasa bermain dengan hanya menggunakan action figure tanpa saling tonjok-tonjokan menirukan kebodohan anak-anak lain. Kalau main tonjok-tonjokan pun, itu hanya sebatas dua permukaan kulit yang bersentuhan ringan. Tapi, dalam waktu yang hampir tak jauh berbeda, saat itu saya juga terpaksa berhenti nonton gulat. Loh, mengapa?
Hmm..., itu karena StarSport berubah UHF, dan televisi di rumah tak mampu menangkap gelombang stasiun kesayangan itu lagi. Uh, saat itu lumayan kecewa juga. Tapi ya sudahlah, tak ada pesta yang tak pernah berakhir.
Lagipula, orang-orang mengatakan gulat hanyalah tontonan fiksi. Siapa menang siapa kalah semuanya hanya kebohongan yang sudah ditetapkan penulis skenario layaknya sebuah film. Ada benarnya juga. Coba perhatikan, ketika The Rock berada di WWF, setiap detik selalu memasang wajah kerbau, padahal ketika berada di luar WWF ia selalu tersenyum manis bahkan dapat bercanda dan terbahak.
Kesimpulan yang saya ambil--sekadar opini--mungkin gulat WWF (sekarang WWE) memang hanyalah cerita fiktif, namun perkelahian mereka sungguhan. Hal ini bisa terlihat dari darah yang muncul di wajah Triple H ketika bertarung melawan sang bapak mertua, Vince McMahon demi memperebutkan Stephanie McMahon. Dan tak mungkin melakukan rekayasa di depan jutaan mata penonton di sana.
Untuk adegan berbahaya seperti ditabrak truk, mungkin kru telah mempersiapkan trik khusus agar tidak sampai memakan korban jiwa. Seperti stuntman, mereka berkelahi dengan lawan main, namun mereka sebenarnya tak saling bermusuhan. Dan sesekali kru juga harus menyiapkan trik khusus agar si stuntman tidak mati konyol.
Semua demi uang dan pekerjaan. Setelah kamera dimatikan, mungkin mereka akan saling minta maaf. Kalau setelah mereka main gulat dan menjadi terkenal serta mendapat banyak orderan bermain film layar lebar, mungkin mereka pun tak ingin lagi berada di WWF. Contohnya The Rock.
Sekadar nostalgia, baru-baru ini saya coba mencari video pertarungan Kane--pegulat idola saya dulu--di Youtube. Meskipun tak dapat lagi menonton gulat di StarSport, sedikit banyak saya tahu, penampilan Kane (di ring) kini menjadi botak, tanpa baju, dan tak lagi memakai topeng. Namun bagaimana dengan perkembangan karir serta kepopulerannya di WWE? Ugh! Saya tidak tahu! Jujur, saya sedikit penasaran. Dan itu jugalah salah satu alasan yang membuat saya mencari video pertarungannya.
Masih seperti dulu, penampilan Kane seru dan menegangkan. Sayangnya dari tiga video yang didownload, semuanya memerlihatkan kekalahan Glenn Thomas Jacobs (nama asli Kane). Sungguh mengecewakan. Tapi biarlah, penulis skenario sedang sengaja mempermainkan emosi fans Kane, termasuk fans lama seperti saya yang sudah tak lagi mengikuti perkembangannya,
Bila memang gulat WWF (saya lebih suka menyebut WWE dengan sebutan lama) itu fiktif namun pertarungannya nyata, semoga saja suatu saat nanti Kane dapat mengikuti jejak The Rock menjadi bintang film layar lebar dan tak perlu lagi bertarung hingga berdarah-darah. Kasihan juga. Hehehe...
Namun trend menonton gulat tak bertahan lama di Indonesia. Pada dasarnya budaya berbicara, berbusana, dan bersikap yang ditawarkan oleh tontonan itu terlalu kontras dengan budaya Indonesia. Ditambah lagi bermunculannya kasus anak-anak yang bermain saling berkelahi menirukan gaya-gaya brutal pegulat idola mereka, tak butuh lama para orangtua pun melarang anaknya menonton gulat lagi.
Sebenarnya hal tersebut (dilarang nonton gulat) tak terjadi pada saya. Adapun itu hanya berupa nasihat. Lagipula, saya dan sepupu saya tak pernah bermain kasar meskipun kami sama-sama fans berat tontonan itu. Karena meskipun masih kecil, kami sadar dengan bermain kasar akan menyakiti kawan main yang lain. Dan kami sudah terbiasa bermain dengan hanya menggunakan action figure tanpa saling tonjok-tonjokan menirukan kebodohan anak-anak lain. Kalau main tonjok-tonjokan pun, itu hanya sebatas dua permukaan kulit yang bersentuhan ringan. Tapi, dalam waktu yang hampir tak jauh berbeda, saat itu saya juga terpaksa berhenti nonton gulat. Loh, mengapa?
Hmm..., itu karena StarSport berubah UHF, dan televisi di rumah tak mampu menangkap gelombang stasiun kesayangan itu lagi. Uh, saat itu lumayan kecewa juga. Tapi ya sudahlah, tak ada pesta yang tak pernah berakhir.
Lagipula, orang-orang mengatakan gulat hanyalah tontonan fiksi. Siapa menang siapa kalah semuanya hanya kebohongan yang sudah ditetapkan penulis skenario layaknya sebuah film. Ada benarnya juga. Coba perhatikan, ketika The Rock berada di WWF, setiap detik selalu memasang wajah kerbau, padahal ketika berada di luar WWF ia selalu tersenyum manis bahkan dapat bercanda dan terbahak.
Kesimpulan yang saya ambil--sekadar opini--mungkin gulat WWF (sekarang WWE) memang hanyalah cerita fiktif, namun perkelahian mereka sungguhan. Hal ini bisa terlihat dari darah yang muncul di wajah Triple H ketika bertarung melawan sang bapak mertua, Vince McMahon demi memperebutkan Stephanie McMahon. Dan tak mungkin melakukan rekayasa di depan jutaan mata penonton di sana.
Untuk adegan berbahaya seperti ditabrak truk, mungkin kru telah mempersiapkan trik khusus agar tidak sampai memakan korban jiwa. Seperti stuntman, mereka berkelahi dengan lawan main, namun mereka sebenarnya tak saling bermusuhan. Dan sesekali kru juga harus menyiapkan trik khusus agar si stuntman tidak mati konyol.
Semua demi uang dan pekerjaan. Setelah kamera dimatikan, mungkin mereka akan saling minta maaf. Kalau setelah mereka main gulat dan menjadi terkenal serta mendapat banyak orderan bermain film layar lebar, mungkin mereka pun tak ingin lagi berada di WWF. Contohnya The Rock.
Sekadar nostalgia, baru-baru ini saya coba mencari video pertarungan Kane--pegulat idola saya dulu--di Youtube. Meskipun tak dapat lagi menonton gulat di StarSport, sedikit banyak saya tahu, penampilan Kane (di ring) kini menjadi botak, tanpa baju, dan tak lagi memakai topeng. Namun bagaimana dengan perkembangan karir serta kepopulerannya di WWE? Ugh! Saya tidak tahu! Jujur, saya sedikit penasaran. Dan itu jugalah salah satu alasan yang membuat saya mencari video pertarungannya.
Masih seperti dulu, penampilan Kane seru dan menegangkan. Sayangnya dari tiga video yang didownload, semuanya memerlihatkan kekalahan Glenn Thomas Jacobs (nama asli Kane). Sungguh mengecewakan. Tapi biarlah, penulis skenario sedang sengaja mempermainkan emosi fans Kane, termasuk fans lama seperti saya yang sudah tak lagi mengikuti perkembangannya,
Bila memang gulat WWF (saya lebih suka menyebut WWE dengan sebutan lama) itu fiktif namun pertarungannya nyata, semoga saja suatu saat nanti Kane dapat mengikuti jejak The Rock menjadi bintang film layar lebar dan tak perlu lagi bertarung hingga berdarah-darah. Kasihan juga. Hehehe...
Rabu, 13 Juli 2011
Milikku
Jangan berkata kau sakit
karena aku terluka
jangan pula berkata kau menangis
karena aku bersedih
jasmani dan rohani ini milikku
tersayat takdir
tertikam keadaan
semua ini milikku
deritaku
bukan derita milikku
katakanlah aku bisu
atau tuli
dan hanya terpojok
dalam bayang suram
dan aku hanya tahu
hingga tulang menembus jantung
segala suka harus berpulang padamu
sakit dan sedih ini tetap hanya milikku
adakah malaikat mengulurkan tangan?
tidak
malaikat hidup dalam kepercayaan
ia tak pernah terlihat
tak pernah terdengar
dan tak pernah ada
dalam detik-detik tangisku
karena aku terluka
jangan pula berkata kau menangis
karena aku bersedih
jasmani dan rohani ini milikku
tersayat takdir
tertikam keadaan
semua ini milikku
deritaku
bukan derita milikku
katakanlah aku bisu
atau tuli
dan hanya terpojok
dalam bayang suram
dan aku hanya tahu
hingga tulang menembus jantung
segala suka harus berpulang padamu
sakit dan sedih ini tetap hanya milikku
adakah malaikat mengulurkan tangan?
tidak
malaikat hidup dalam kepercayaan
ia tak pernah terlihat
tak pernah terdengar
dan tak pernah ada
dalam detik-detik tangisku
Minggu, 15 Mei 2011
Seperempat Tahun Berhenti Menulis Fiksi
Rindu menulis fiksi, inilah yang belakangan ini sering kurasakan. Kalau coba diingat-ingat, terakhir kali aku menulis fiksi sepertinya sudah dua atau tiga bulan lalu--seperempat tahun lalu.
Awalnya aku berhenti menulis fiksi rencananya hanya untuk sejenak, sekadar untuk menghindari jenuh, dan beralih sejenak pada non fiksi, baik tutorial atau pun artikel renungan yang ringan-ringan. Meskipun ini bukan satu-satunya faktor, tapi faktor inilah yang kurasakan sebagai faktor utama dari faktor-faktor lain. Atau boleh juga dikatakan aku menganggapnya sebagai faktor utama, karena faktor yang lain kalau terlintas di benak saja sudah membuatku merasa frustrasi, apalagi harus dibuka di sini--di blog ini. Hehehe...
Ya, tapi perlu ditekankan, faktor yang dimaksudkan di atas adalah faktor yang menyebabkan aku memutuskan untuk berhenti sejenak dalam menulis fiksi, bukan faktor yang menyebabkan aku berhenti menulis fiksi hingga seperempat tahun.
Berhenti menulis fiksi hingga demikian lama adalah satu hal beda yang diluar dugaanku sebelumnya, bukan karena aku tak lagi mencintai kegiatan tersebut. Kalau beberapa penulis memutuskan untuk hanya menulis salah satu mode antara fiksi dan non fiksi, maka sedari pertama kali aku mulai menancapkan tiang bendera pada dunia kepenulisan, aku tak pernah mau membatasi diri sendiri untuk hanya memilih salah satu mode, karena aku menyukai kedua-duanya. Aku berharap dapat mendalami kedua-duanya, tanpa 'menganaktirikan' salah satunya. Dan empat tahun berlalu, aku merasa sangat bersyukur, karena secara tak langsung aku telah memeroleh banyak pelajaran-pelajaran berharga serta bekal dari 'tanah' di mana tiang benderaku pertama kali ditancapkan.
Di sini, aku tak berencana bercerita terlalu banyak tentang faktor berhentinya aku menulis fiksi hingga demikian lama. Aku hanya ingin mengatakan bahwa apa yang menjadi faktor bukanlah sesuatu yang negatif, meskipun aku tak yakin juga untuk menyebutnya sebagai sesuatu yang positif. Aku bukan tengah diserang penyakit stroke dan tak mampu menggerakkan jari-jari tangan untuk mengetik lagi, seperti apa yang diharapkan oleh para musuh-musuhku. Macam betul saja... Hehehe...
Tahun lalu aku juga pernah setengah tahun berhenti menulis--baik fiksi maupun non fiksi--dikarenakan hal yang tak begitu diinginkan. Akibatnya, ketika mulai menulis lagi, aku seperti robot yang kehilangan sebagian memori untuk mengerjakan apa yang hendak dikerjakan. Butuh beberapa lama untuk beradaptasi kembali. Ya, pada dasarnya kemampuan menulis bukanlah suatu ilmu yang mutlak abadi menjadi milik seseorang, tanpa adanya pemeliharaan.
Semoga ide-ide fiksi yang memadati otakku sekarang tak terlalu cepat menjadi kabur. Kalau waktu dan situasinya sudah pas, akan kuubah mereka menjadi berwujud utuh dalam format file MsWord. Semoga...
2L, 2011
Awalnya aku berhenti menulis fiksi rencananya hanya untuk sejenak, sekadar untuk menghindari jenuh, dan beralih sejenak pada non fiksi, baik tutorial atau pun artikel renungan yang ringan-ringan. Meskipun ini bukan satu-satunya faktor, tapi faktor inilah yang kurasakan sebagai faktor utama dari faktor-faktor lain. Atau boleh juga dikatakan aku menganggapnya sebagai faktor utama, karena faktor yang lain kalau terlintas di benak saja sudah membuatku merasa frustrasi, apalagi harus dibuka di sini--di blog ini. Hehehe...
Ya, tapi perlu ditekankan, faktor yang dimaksudkan di atas adalah faktor yang menyebabkan aku memutuskan untuk berhenti sejenak dalam menulis fiksi, bukan faktor yang menyebabkan aku berhenti menulis fiksi hingga seperempat tahun.
Berhenti menulis fiksi hingga demikian lama adalah satu hal beda yang diluar dugaanku sebelumnya, bukan karena aku tak lagi mencintai kegiatan tersebut. Kalau beberapa penulis memutuskan untuk hanya menulis salah satu mode antara fiksi dan non fiksi, maka sedari pertama kali aku mulai menancapkan tiang bendera pada dunia kepenulisan, aku tak pernah mau membatasi diri sendiri untuk hanya memilih salah satu mode, karena aku menyukai kedua-duanya. Aku berharap dapat mendalami kedua-duanya, tanpa 'menganaktirikan' salah satunya. Dan empat tahun berlalu, aku merasa sangat bersyukur, karena secara tak langsung aku telah memeroleh banyak pelajaran-pelajaran berharga serta bekal dari 'tanah' di mana tiang benderaku pertama kali ditancapkan.
Di sini, aku tak berencana bercerita terlalu banyak tentang faktor berhentinya aku menulis fiksi hingga demikian lama. Aku hanya ingin mengatakan bahwa apa yang menjadi faktor bukanlah sesuatu yang negatif, meskipun aku tak yakin juga untuk menyebutnya sebagai sesuatu yang positif. Aku bukan tengah diserang penyakit stroke dan tak mampu menggerakkan jari-jari tangan untuk mengetik lagi, seperti apa yang diharapkan oleh para musuh-musuhku. Macam betul saja... Hehehe...
Tahun lalu aku juga pernah setengah tahun berhenti menulis--baik fiksi maupun non fiksi--dikarenakan hal yang tak begitu diinginkan. Akibatnya, ketika mulai menulis lagi, aku seperti robot yang kehilangan sebagian memori untuk mengerjakan apa yang hendak dikerjakan. Butuh beberapa lama untuk beradaptasi kembali. Ya, pada dasarnya kemampuan menulis bukanlah suatu ilmu yang mutlak abadi menjadi milik seseorang, tanpa adanya pemeliharaan.
Semoga ide-ide fiksi yang memadati otakku sekarang tak terlalu cepat menjadi kabur. Kalau waktu dan situasinya sudah pas, akan kuubah mereka menjadi berwujud utuh dalam format file MsWord. Semoga...
2L, 2011
Minggu, 01 Mei 2011
Akhir Zaman
Biru tak lagi langit
tiada lagi indah di mata
sisa kisah tawa yang dibalut sejarah
dan airmata kini mengalir
ada sakit oleh derita
ada derita oleh sakit
tiada gerbang menuju masa lalu
tiada pelarian dari masa depan
terseret oleh zaman
menuju ruang eksekusi
hitam pekat
tiada lagi indah di mata
sisa kisah tawa yang dibalut sejarah
dan airmata kini mengalir
ada sakit oleh derita
ada derita oleh sakit
tiada gerbang menuju masa lalu
tiada pelarian dari masa depan
terseret oleh zaman
menuju ruang eksekusi
hitam pekat
2L, 2011
Senin, 18 April 2011
Nostalgia Tentang Game Final Fantasy VII
Ini bukan sebuah artikel untuk dibaca oleh umum. Ini sekadar nostalgia tentang masa kecil dan juga video game. Ya, kendati kini saya sangat tak memiliki banyak waktu untuk bermain video game lagi, namun saya merasa saya tetap harus mengakui bahwa saya menyenangi video game, khususnya serial Final Fantasy yang dikembangkan oleh perusahaan raksasa Square Enix. Terhadap Final Fantasy, mungkin saya sudah seperti bersumpah setia untuk menjadi fansnya, kendati tidak sampai menjadi maniak.
Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa orang yang mencintai video game adalah orang yang kekanak-kanakan. Tapi biarlah apa pendapat mereka--karena setiap individu pantas berpendapat--yang penting dari diri saya sendiri, sayalah yang paling tahu bahwa saya masih mampu mengendalikan diri untuk memprioritaskan hal yang lebih penting untuk dilakukan, daripada menjadi seorang pecundang video game semata.
Saya menyukai hal-hal yang bersifat teknologi. Dan saya menganggap video game sebagai salah satunya. Ini sekadar hobi, bukan kebutuhan. Kalau diibaratkan makanan, maka ini sekadar makanan kesukaan, bukan makanan pokok.
Baiklah, saya rasa pembuka dari tulisan ini cukup sampai di sini. Langsung saja berpindah pada pokok. Baru-baru ini saya menemukan sebuah postingan di internet tentang Final Fantasy VII (FF VII). Dan seperti biasanya, saya tak akan melewatkannya. Setelah membaca postingan yang merupakan karya penggemar tersebut, saya menjadi teringat pada salah satu adegan ter-ironis yang pernah ada di game tersebut. Bila Anda juga pernah memainkannya, maka cukup satu detik saja, Anda pasti tahu adegan apa yang saya maksud. Tepat sekali! Kematian salah satu tokoh utama, Aeris.
Tidak tanggung-tanggung, kalau di Suikoden II pemain masih memiliki solusi untuk mencegah kematian Nanami, sementara kematian Aeris yang ada pada FF VII tak mungkin dicegah.
Kalau mau jujur, sebenarnya saya juga tak begitu suka memainkan Aeris di battle, karena terlalu lemah bila dibandingkan dengan Tifa. Tapi bagaimana pun juga saat itu--bertahun-tahun silam ketika saya pertama kali bermain FF VII--saya tidak ikhlas melihat salah satu tokoh yang telah lama mengikuti perjalanan Cloud mati begitu saja tertusuk oleh pedang panjang tokoh antagonis, Sephiroth.
Saya masih mengingat adegan itu dengan jelas. Setelah sekian waktu Aeris berpisah dari kelompok, begitu kembali bertemu dan belum sempat berbicara satu kata pun, Sephiroth tiba-tiba muncul dari atas, melesat turun, kemudian menancapkan pedang panjangnya dari belakang hingga tembus ke depan. Aeris tersentak kaget bercampur rasa sakit, kemudian ambruk seketika. Kristal yang berada di balik ikatan rambutnya terjatuh, bergelinding, meloncat-loncat pada beberapa anak tangga serta menciptakan suara dentingan merdu yang bercampur dengan alunan musik yang menyesakkan dada dan mengentalkan nafas, kemudian tercebur ke dalam genangan lifestream. Cloud segera meraih tubuh Aeris, dan juga panjang lebar memaki Sephiroth. Sayangnya, tak ada gunanya lagi. Aeris telah pergi. Dengan perasaan yang galau, akhirnya Cloud terpaksa harus mengikhlaskan perempuan yang merupakan sahabatnya--dan mungkin juga pujaan hatinya--dihanyutkan ke dalam lifestream. Cloud sendiri yang melakukan itu. Ia membawa tubuh Aeris di tengah genangan lifestream, dan melepaskannya di sana.
Saat menyaksikan adegan tersebut, sebagai pemegang stik, saya yakin Square Enix (saat itu dikenal Square Soft) telah sukses menguasai emosi saya. Ya, untunglah ada sedikit hiburan selepas tragedi tersebut, karena game telah memasuki Disc 2.
Bila Anda yang membaca postingan ini ternyata juga pernah bermain FF VII, lalu bagaimana perasaan Anda ketika menyaksikan adegan ironis tersebut?
Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa orang yang mencintai video game adalah orang yang kekanak-kanakan. Tapi biarlah apa pendapat mereka--karena setiap individu pantas berpendapat--yang penting dari diri saya sendiri, sayalah yang paling tahu bahwa saya masih mampu mengendalikan diri untuk memprioritaskan hal yang lebih penting untuk dilakukan, daripada menjadi seorang pecundang video game semata.
Saya menyukai hal-hal yang bersifat teknologi. Dan saya menganggap video game sebagai salah satunya. Ini sekadar hobi, bukan kebutuhan. Kalau diibaratkan makanan, maka ini sekadar makanan kesukaan, bukan makanan pokok.
Baiklah, saya rasa pembuka dari tulisan ini cukup sampai di sini. Langsung saja berpindah pada pokok. Baru-baru ini saya menemukan sebuah postingan di internet tentang Final Fantasy VII (FF VII). Dan seperti biasanya, saya tak akan melewatkannya. Setelah membaca postingan yang merupakan karya penggemar tersebut, saya menjadi teringat pada salah satu adegan ter-ironis yang pernah ada di game tersebut. Bila Anda juga pernah memainkannya, maka cukup satu detik saja, Anda pasti tahu adegan apa yang saya maksud. Tepat sekali! Kematian salah satu tokoh utama, Aeris.
Tidak tanggung-tanggung, kalau di Suikoden II pemain masih memiliki solusi untuk mencegah kematian Nanami, sementara kematian Aeris yang ada pada FF VII tak mungkin dicegah.
Kalau mau jujur, sebenarnya saya juga tak begitu suka memainkan Aeris di battle, karena terlalu lemah bila dibandingkan dengan Tifa. Tapi bagaimana pun juga saat itu--bertahun-tahun silam ketika saya pertama kali bermain FF VII--saya tidak ikhlas melihat salah satu tokoh yang telah lama mengikuti perjalanan Cloud mati begitu saja tertusuk oleh pedang panjang tokoh antagonis, Sephiroth.
Saya masih mengingat adegan itu dengan jelas. Setelah sekian waktu Aeris berpisah dari kelompok, begitu kembali bertemu dan belum sempat berbicara satu kata pun, Sephiroth tiba-tiba muncul dari atas, melesat turun, kemudian menancapkan pedang panjangnya dari belakang hingga tembus ke depan. Aeris tersentak kaget bercampur rasa sakit, kemudian ambruk seketika. Kristal yang berada di balik ikatan rambutnya terjatuh, bergelinding, meloncat-loncat pada beberapa anak tangga serta menciptakan suara dentingan merdu yang bercampur dengan alunan musik yang menyesakkan dada dan mengentalkan nafas, kemudian tercebur ke dalam genangan lifestream. Cloud segera meraih tubuh Aeris, dan juga panjang lebar memaki Sephiroth. Sayangnya, tak ada gunanya lagi. Aeris telah pergi. Dengan perasaan yang galau, akhirnya Cloud terpaksa harus mengikhlaskan perempuan yang merupakan sahabatnya--dan mungkin juga pujaan hatinya--dihanyutkan ke dalam lifestream. Cloud sendiri yang melakukan itu. Ia membawa tubuh Aeris di tengah genangan lifestream, dan melepaskannya di sana.
Saat menyaksikan adegan tersebut, sebagai pemegang stik, saya yakin Square Enix (saat itu dikenal Square Soft) telah sukses menguasai emosi saya. Ya, untunglah ada sedikit hiburan selepas tragedi tersebut, karena game telah memasuki Disc 2.
Bila Anda yang membaca postingan ini ternyata juga pernah bermain FF VII, lalu bagaimana perasaan Anda ketika menyaksikan adegan ironis tersebut?
Langganan:
Postingan (Atom)





