Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Februari 2011

Kisah 1000 Musim

Aku kian paham
makna bahak kejam dari para malaikat
suatu ketika anak manusia polos
yang mereka berikan nafas di bumi
t'lah kian beranjak dewasa
dan belajar memahami cinta

lembut dan romantis
begitulah cinta berkisah
tapi sering lara mengusik batin
hingga jiwa terkapar lelah pula
ketika takdir dan keinginan tak sejalan

tentu, aku pun mencemburui nasib
kala dirimu t'lah raib dalam gundahku
bahkan bayangmu di episode mimpiku
jua t'lah raib tak bersisa

aku masih hidup dalam kenangan
terperangkap di sana
hanya mampu mengenang kisah-kisah
ketika kita bersukacita kemarin

lagi, cinta menawarkan pertarungan
sering darah hanya terbuang sia-sia
tuk diganti suatu harapan kosong
detik ini tersenyum gembira
detik berikutnya menangis lara
kesetiaan sering hanya sebatas topeng
yang menyembunyikan kebohongan

Di sini aku terbodoh
ruang hatiku tak berpenghuni
masih selalu mengenangmu
sosok yang t'lah menjadi pemilik
kunci pada ruang hatiku

aku sadar esok atau lusa pun
kau tak akan kembali menghuninya
dan selamanya jua tak kembali lagi
tapi takdir mengutukku
tuk tetap menunggumu

hingga malam berganti pagi
pagi berganti malam
1000 musim kulewati dengan airmata
aku masih hanya mencintaimu seorang
tuk selamanya

2L, 2011

Minggu, 09 Januari 2011

Cintamu Membuatnya Menderita

Bila orang yang dicintai mulai menghindarimu, jangan membencinya. Berpikir positif, dia profesional, tak ingin membuatmu menderita karena terus berharap pada harapan kosong.

Tapi ingat pula, kendati jangan membencinya, bukan berarti kau masih boleh terus mengejarnya lagi. Itu akan membuatnya tertekan, bila kalian memang tak mungkin bersama. Cintamu membuatnya menderita. Tak semua cinta berhak diperjuangkan.



2L, 2011

Minggu, 05 Desember 2010

Malam yang Mencintai Pagi

Terkadang, ketika seseorang tak menunjukkan rasa cintanya, bukan berarti dia tak mencintai, melainkan dia tak dapat mencintai.

Dahulu, angin selalu berbaik hati membantu pagi menyampaikan kasih untuk malam. Malam yang menerima kasih pun sangat bersuka cita. Selalu malam menerima kasih tersebut dengan mata yang berbinar-binar.

Hampir setiap hari, pagi selalu menyampaikan kasih untuk malam. Bila sesekali pagi lupa, maka malamlah yang balik menyampaikan kasih untuk pagi, juga lewat angin.

Hingga suatu saat, tanpa sengaja malam bercermin pada danau, dan ia pun terkejut melihat bayangan dirinya yang ternyata begitu gelap dan hitam pekat.

Malam pun bertanya kepada danau, ''Danau! Inikah diriku?"

"Ya..."

Kendati ragu dan segan, namun malam pun kembali bertanya, ''Lalu bagaimana dengan sosok pagi?''

"Kebalikan dari dirimu. Pagi sangat indah dan cerah. Kehadirannya kerap membawakan harapan dan semangat baru untuk para petani. Sedangkan kehadiranmu kerap membawakan kepanikan dan rasa lelah. Para petani tak dapat bekerja lagi. Kendati belum ada beras dan lauk untuk esok, mau tak mau mereka sudah harus berdiam diri."

Ah, benar juga, pagi dan malam serupa dua sisi yang teramat sangat bertolak belakang. Malam pun menangis. Malam menangis bukan karena sosok buruknya, namun malam menangis karena ternyata dirinya teramat kontras dengan pagi.

Padahal, ingin rasanya malam menggenggam erat tangan pagi, tuk berjalan bersama di atas jalan cinta. Namun malam kini sadar, semua itu mustahil, ibarat mengharapkan air terjun mengalir dari bawah ke atas.

"Malam, mengapa kau menangis? Kau mencintai pagi?'' tanya danau.

Malam menghapus airmatanya. "Tidak..."

"Ketahuilah, pagi dan malam tak pernah dapat muncul bersamaan. Kalian tak mungkin berpelukan. Tuhan menciptakan kalian dengan peran yang berbeda..."

"Aku paham... Peran ini tetap akan kulakonkan sesuai kehendak-Nya, kendati menyakitkan. Hingga tiba saatnya roh terpisah dari raga, maka 1000 tahun kelak aku ingin terlahir kembali menjadi malaikat bersayap elok yang dapat terbang tinggi di atas langit, tuk mencari pagi...''





kamar renung, 2010

Jumat, 03 Desember 2010

Mengapa ada orang yang bersedia mencintai orang jelek?

"Mengapa ada orang yang bersedia mencintai orang sejelek itu?"

Apa pendapat Anda ketika mendengar seseorang menanyakan sebaris kalimat di atas? Anda akan setuju, bahwa orang jelek memang sulit dicintai, ataukah Anda memiliki pendapat lain? Apa pun pendapat Anda, jika berdasarkan pribadi penulis, penulis berpendapat bahwa pertanyaan tersebut sangatlah tak manusiawi dan hanya dapat diucapkan oleh seseorang yang krisis kebijaksanaan. Mengapa?

Untuk mengetahui jawaban tersebut, luangkanlah waktu Anda untuk merenungkan, siapa yang ingin jelek di dunia ini? Apakah jelek adalah sebuah pilihan? Apakah yang menyebabkan seseorang terlahir jelek? Dan bagaimanakah perasaan seseorang yang terlahir jelek dan tak dicintai orang lain? Apakah menyenangkan? Tentu tidak, 'kan?

Setelah direnungkan, tentu kita semua akan sadar, jelek bukanlah suatu pilihan empunya. Di dunia ini tak ada seorang pun yang berhak atau mau memilih untuk terlahir jelek. Setiap manusia, baik jelek atau pun cantik, tetaplah merupakan ciptaan Tuhan. Dengan menanyakan sebaris kalimat di atas, berarti seseorang telah menghina Tuhan, lewat ciptaan-Nya.

Bagaimana perasaan seorang jelek bila mengetahui ada orang-orang yang menghina kejelekannya? Tentu menyedihkan, bukan? Oleh karena itu, janganlah pernah menanyakan kalimat di atas, atau pun yang senadanya. Itu tak manusiawi.

Kehidupan akan damai, bukan karena adanya orang-orang berparas cantik, melainkan karena adanya orang-orang berhati cantik. Sama halnya dengan cinta, cinta juga akan terasa indah, bukan karena adanya pasangan berparas cantik, melainkan karena adanya pasangan yang berhati cantik, serta mampu memahami dan mengasihi kita.

Kita sering mendengar kalimat "cinta itu buta". Dan bila berdasarkan 'versi' penulis, perasaan cinta itu ibarat rumput liar, yang berpotensi tumbuh di tanah belahan bumi mana pun, tanpa membeda-bedakan apakah tanah itu cantik atau tidak. Jadi rasanya tentu tak heran dan tak perlu dipertanyakan, bila ada seseorang yang bersedia mencintai seseorang yang jelek. Di balik paras jeles, mungkin saja masih terdapat faktor-faktor lain yang membuat cinta itu tumbuh, 'kan?

Dan justru cinta yang tumbuh berdasarkan ketertarikan fisik itu berbahaya, patut diragukan dan dicemaskan! Mengapa? Ya, cobalah renungkan, kecantikan itu tidaklah kekal. Suatu saat akan layu. Dan akankah cinta menjadi layu juga pada saat itu?




kamar renung, 2010

Minggu, 14 November 2010

Sebentuk Rindu dan Foto-Fotomu

Pada lembar-lembar itu, kutemukan senyum-senyummu. Tuk melupakanmu, mungkin sudah semestinya kubuang lembar-lembar itu. Tapi ke mana harus kutemukan senyummu esok, bila kumasih merindukanmu?

Tidak. Biarlah jemari-jemari ini masih menggenggam erat lembar-lembar itu. Biarlah mata ini masih terpaku pada lembar-lembar itu, tuk memeluk senyummu, kendati jiwa ini harus berdarah-darah, hingga akhir hayat.

Sering batin ini tak mampu terus memandang lembar-lembar yang merekam senyum-senyummu, bila merenungkan takdir, nasib, yang ada pada kenyataan. Dan, pun remuk perasaan ini, pada malam berganti malam yang terlewatkan dengan gundah pengikis lelap.

Semakin memandang, semakin merindukanmu. Semakin merindukanmu, semakin terus memandang lembar-lembar itu.



Kamar renung, 2010

Kamis, 11 November 2010

Kesempurnaan Cinta




Sangatlah manusiawi, dunia tak pernah ada cinta sempurna. Tak pernah ada satu pun cinta yang tak pernah ternoda oleh benci. Dan di situ jualah kau dapat menemukan makna indahnya cinta. Ketidaksempurnaan cinta merupakan salah satu bagian dari kesempurnaan cinta.




-Lea Willsen-

Gambar: int

Selasa, 02 November 2010

Ketika Cinta Membisu Sunyi


Sesungguhnya untuk mengungkapkan sebuah perasaan cinta, tidaklah perlu menanti datangnya kesempatan. Asal tekad dan keberanian telah bersatu kuat, maka kesempatan hanyalah sesuatu yang dapat dengan mudahnya diburu. Sayangnya, sekali pun kesempatan telah ada, yang memutuskan hasilnya adalah perasaan serta reaksi darinya.

Bila ia memiliki perasaan yang sama, maka tentulah ia akan tersenyum kepadamu, setelah mendengar ungkapanmu. Tetapi bila ia tak memiliki perasaan yang sama, dan juga tak ingin memberi harapan, maka ia pun akan memilih untuk lari darimu. Hal itu sudah merupakan hal yang sering terjadi, saat seseorang hendak menolak cinta seseorang.

Diam di tempat, adalah membiarkannya pergi jauh. Bila dikejar, maka takutnya akan lari semakin jauh. Rasa takut demikianlah yang kerap menyebabkan seseorang menjadi kehilangan rasa percaya diri untuk mengungkapkan perasaan cinta, bahkan sekali pun bila kesempatan emas sudah di depan mata tanpa harus diburu. Perjuangan yang sejak semula telah ada pun seolah tiada peran, jika demikian.

Cinta yang tulus memang tak seperti cinta palsu yang dapat dengan mudahnya diungkapkan. Cinta tulus tak terlepas dari tanggung jawab besar hingga masa-masa mendatang. Sedangkan cinta palsu hanyalah sebatas gombal penghibur hati.





Lea Willsen
Kamar renung, 14 September