Demikianlah Bumi kembali menangis
ketika bergolak lagi sekeping tanahnya
oleh para makhluk-makhluk bengis
yang saling berperang dan membunuh
seraya menyeringai puas
ketika darah t'lah mengucur deras
dari tubuh lawan
sesosok tubuh tegap dan kekar
yang dua puluh tahun sudah
menguras tenaga sepasang orangtua
kini tergeletak tak bernyawa
sebelum sempat membalas budi
segalanya hilang dalam semalam
dan bahkan sedetik
tetapi mungkinkah satu dekade
mengembalikan semuanya lagi?
ataukah dua dekade?
ataukah hingga tiga dekade pun
segalanya hanya tinggal kenangan
tuk selamanya
sepasang jompo kehilangan harapan
anak-anak merindukan kecupan bapak
prajurit kehilangan sepasang tangan
dan janda menanti sahutan langit bisu
tapi masih peluru melesat cepat
merenggut nyawa-nyawa malang
bahana tangis membentuk
simfoni penyayat hati
perang belum usai
darah masih mengalir deras
airmata pun masih mengalis jua
2L, 2011
Tampilkan postingan dengan label Solidaritas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Solidaritas. Tampilkan semua postingan
Senin, 28 Februari 2011
Jumat, 19 November 2010
Lezat Maut
Mengapa antara mereka sering harus saling menyakiti, ketika engkau wahai para tuan-tuan berbagi sekantong lezat? Tak adakah pengalaman yang terpetik pada tragedi-tragedi kematian sebelumnya? Ataukah karena tuan-tuan nan tersohor berharap ingin semakin tersohor lagi dengan adanya mereka-mereka yang seperti setan kelaparan mengerumuni tuan-tuan?
Benar, katakanlah mereka bodoh, rakus, tak pernah merasakan sesuap lezat. Tetapi itulah kenyataanya, mereka memang tak seberuntung tuan-tuan. Mereka bukan saling menyakiti sekadar ingin. Tetapi mereka takut melihat kekecewaan di wajah anak-anak yang tengah menanti lezat di rumah.
Apa yang harus mereka jawab, ketika anak-anak bertanya, "Jadikah kita makan lezat?"
Benar, katakanlah mereka bodoh, rakus, tak pernah merasakan sesuap lezat. Tetapi itulah kenyataanya, mereka memang tak seberuntung tuan-tuan. Mereka bukan saling menyakiti sekadar ingin. Tetapi mereka takut melihat kekecewaan di wajah anak-anak yang tengah menanti lezat di rumah.
Apa yang harus mereka jawab, ketika anak-anak bertanya, "Jadikah kita makan lezat?"
Sabtu, 13 November 2010
Duka Merapi
Derita ini tak pernah akan membentuk simfoni. Pada debu dan kabut, sudah jiwa ini berlinang gundah dan duka.
Pada kandang busuk itulah, tersimpan harapan-harapan kami. Pada petak sawah itulah, tersimpan senyum kami. Andai kini masih bernafas, maka esok-esok pun tak tahu lagi cara bernafas yang benar, bila kandang dan sawah telah hangus tersiram panas.
Alam, tidakkah kau sudah cemburu terlalu lama? Kapan kau tersenyum? Jiwa ini sudah semakin mengering, oleh marahmu yang terlalu.
Lea Willsen
Kamar renung, 2010
Pada kandang busuk itulah, tersimpan harapan-harapan kami. Pada petak sawah itulah, tersimpan senyum kami. Andai kini masih bernafas, maka esok-esok pun tak tahu lagi cara bernafas yang benar, bila kandang dan sawah telah hangus tersiram panas.
Alam, tidakkah kau sudah cemburu terlalu lama? Kapan kau tersenyum? Jiwa ini sudah semakin mengering, oleh marahmu yang terlalu.
Lea Willsen
Kamar renung, 2010
Duka Mentawai
Kemarin, walau tak memiliki rumah mewah, tetapi pada gubuk tua itu banyak kehangatan. Keceriaan nan sederhana, kerap melukis senyum dan tawa.
Tetapi kini, tanpa menunggu kesiapan mental, bencana datang merenggutnya. Meninggalkan luka fisik dan hati. Luka fisik terasa sakit, namun tak melebihi sakit luka hati akibat ditinggal pergi oleh orang-orang terkasih.
Andai, gubuk tua masih ada, namun siapa lagi yang akan menghadirkan hangat di dalamnya, jikalau orang-orang terkasih telah pergi?
Lea Willsen
Kamar renung, 2010
Tetapi kini, tanpa menunggu kesiapan mental, bencana datang merenggutnya. Meninggalkan luka fisik dan hati. Luka fisik terasa sakit, namun tak melebihi sakit luka hati akibat ditinggal pergi oleh orang-orang terkasih.
Andai, gubuk tua masih ada, namun siapa lagi yang akan menghadirkan hangat di dalamnya, jikalau orang-orang terkasih telah pergi?
Lea Willsen
Kamar renung, 2010
Langganan:
Postingan (Atom)