Malam yang penuh kenangan
dadaku terasa berdarah
menatap jauh
ada cakrawala kontras
sebaris kilat membelahnya
pecah pisah seperti kita
sekontras ekspresimu kini dan dulu
aku setuju; memang semestinya begitu
aku menunduk dan membasahi kaki
dengan setetes kristal kesedihan
Minggu, 06 Maret 2011
Selasa, 01 Maret 2011
Iblis Berparas Malaikat
Senyum hanya sebatas topeng
yang menutupi bahak bengis
terlanjur sudah cinta terkutuk lara
aku ingin kau menangisi cinta
aku ingin kau tenggelam dalam gundah
terkapar tak berdaya
menatapku penuh harap
dan memohon pada batin
dengan bibir yang kehilangan suara
2L, 2011
Senin, 28 Februari 2011
Dialog Imaji Jiwa II
"Kau kembali mengingatnya lagi?"
"Aku memang tak pernah melupakannya..."
"Mengapa?"
"Karena aku tak mampu."
"Kau tak mampu atau tak ingin?"
"Aku tak tahu..."
"Aku tak paham apa yang ada dalam pikiranmu..."
"Cinta memang sulit dipahami, 'kan? Cinta kerap hadir tanpa perlu alasan..."
"Kejar dia!"
"Buah yang indah..., adalah mustahil tuk tumbuh pada ranting kering..."
"Apa maksudmu?"
"Aku juga tak tahu. Aku hanya mengungkapkan apa yang kuketahui, kendati tak sepenuhnya kupahami."
"Kenyataannya dia bukan buah, dan kau juga bukan ranting."
"Aku berharap dia adalah seekor burung kecil."
"Mengapa?"
"Karena aku ingin melihatnya mengepakkan sayap, terbang tinggi dan jauh, kemudian berkembang menjadi yang terdepan."
"Jika demikian, maka dia tak akan berada di dekatmu lagi."
"Sedari awal memang sudah ditakdirkan demikian. Aku hanya berharap..."
"Apa...?"
"Seandainya satu, dua, atau tiga tahun dia tak pernah mengingatku lagi, semoga satu, dua, atau tiga dekade mendatang, dia akan ingat; di sini ada ranting kering yang selalu mengingatnya..."
2L, 2011
"Aku memang tak pernah melupakannya..."
"Mengapa?"
"Karena aku tak mampu."
"Kau tak mampu atau tak ingin?"
"Aku tak tahu..."
"Aku tak paham apa yang ada dalam pikiranmu..."
"Cinta memang sulit dipahami, 'kan? Cinta kerap hadir tanpa perlu alasan..."
"Kejar dia!"
"Buah yang indah..., adalah mustahil tuk tumbuh pada ranting kering..."
"Apa maksudmu?"
"Aku juga tak tahu. Aku hanya mengungkapkan apa yang kuketahui, kendati tak sepenuhnya kupahami."
"Kenyataannya dia bukan buah, dan kau juga bukan ranting."
"Aku berharap dia adalah seekor burung kecil."
"Mengapa?"
"Karena aku ingin melihatnya mengepakkan sayap, terbang tinggi dan jauh, kemudian berkembang menjadi yang terdepan."
"Jika demikian, maka dia tak akan berada di dekatmu lagi."
"Sedari awal memang sudah ditakdirkan demikian. Aku hanya berharap..."
"Apa...?"
"Seandainya satu, dua, atau tiga tahun dia tak pernah mengingatku lagi, semoga satu, dua, atau tiga dekade mendatang, dia akan ingat; di sini ada ranting kering yang selalu mengingatnya..."
2L, 2011
Dialog Imaji Jiwa I
"Aku... berharap bisa menjadi android."
"Kau bercanda...?"
"Tidak... Aku bukan ingin menjadi android yang dapat menyelamatkan atau menghancurkan Bumi, seperti yang ada pada cerita masa kecil."
"Lalu...?"
"Aku ingin menjadi android, agar aku tak lagi memiliki emosi; gundah, kehilangan, sedih, takut, kecewa, benci, suka, dan juga cinta..."
"Kau tak mungkin menjadi android..."
"Kalau begitu biarlah aku menjadi gila. Setelah gila, maka aku tak akan memahami apa pun lagi..."
"Kau hanya akan menjadi gila, setelah menerima tekanan batin yang besar."
"Lalu...?"
"Maksudku..., bila kau telah menjadi gila, berarti kau juga sudah terlanjur menjalani semua penderitaan batin hingga mencapai batas..."
"Kapankah batas itu tiba?"
"....."
"Jawablah aku..."
"Sepertinya kau ingin lari dari kenyataan. Kau tak akan mampu."
"Benarkah?"
"Ya..."
"....."
"....."
2L, 2011
"Kau bercanda...?"
"Tidak... Aku bukan ingin menjadi android yang dapat menyelamatkan atau menghancurkan Bumi, seperti yang ada pada cerita masa kecil."
"Lalu...?"
"Aku ingin menjadi android, agar aku tak lagi memiliki emosi; gundah, kehilangan, sedih, takut, kecewa, benci, suka, dan juga cinta..."
"Kau tak mungkin menjadi android..."
"Kalau begitu biarlah aku menjadi gila. Setelah gila, maka aku tak akan memahami apa pun lagi..."
"Kau hanya akan menjadi gila, setelah menerima tekanan batin yang besar."
"Lalu...?"
"Maksudku..., bila kau telah menjadi gila, berarti kau juga sudah terlanjur menjalani semua penderitaan batin hingga mencapai batas..."
"Kapankah batas itu tiba?"
"....."
"Jawablah aku..."
"Sepertinya kau ingin lari dari kenyataan. Kau tak akan mampu."
"Benarkah?"
"Ya..."
"....."
"....."
2L, 2011
War, Blood, and Tear
Demikianlah Bumi kembali menangis
ketika bergolak lagi sekeping tanahnya
oleh para makhluk-makhluk bengis
yang saling berperang dan membunuh
seraya menyeringai puas
ketika darah t'lah mengucur deras
dari tubuh lawan
sesosok tubuh tegap dan kekar
yang dua puluh tahun sudah
menguras tenaga sepasang orangtua
kini tergeletak tak bernyawa
sebelum sempat membalas budi
segalanya hilang dalam semalam
dan bahkan sedetik
tetapi mungkinkah satu dekade
mengembalikan semuanya lagi?
ataukah dua dekade?
ataukah hingga tiga dekade pun
segalanya hanya tinggal kenangan
tuk selamanya
sepasang jompo kehilangan harapan
anak-anak merindukan kecupan bapak
prajurit kehilangan sepasang tangan
dan janda menanti sahutan langit bisu
tapi masih peluru melesat cepat
merenggut nyawa-nyawa malang
bahana tangis membentuk
simfoni penyayat hati
perang belum usai
darah masih mengalir deras
airmata pun masih mengalis jua
2L, 2011
ketika bergolak lagi sekeping tanahnya
oleh para makhluk-makhluk bengis
yang saling berperang dan membunuh
seraya menyeringai puas
ketika darah t'lah mengucur deras
dari tubuh lawan
sesosok tubuh tegap dan kekar
yang dua puluh tahun sudah
menguras tenaga sepasang orangtua
kini tergeletak tak bernyawa
sebelum sempat membalas budi
segalanya hilang dalam semalam
dan bahkan sedetik
tetapi mungkinkah satu dekade
mengembalikan semuanya lagi?
ataukah dua dekade?
ataukah hingga tiga dekade pun
segalanya hanya tinggal kenangan
tuk selamanya
sepasang jompo kehilangan harapan
anak-anak merindukan kecupan bapak
prajurit kehilangan sepasang tangan
dan janda menanti sahutan langit bisu
tapi masih peluru melesat cepat
merenggut nyawa-nyawa malang
bahana tangis membentuk
simfoni penyayat hati
perang belum usai
darah masih mengalir deras
airmata pun masih mengalis jua
2L, 2011
Minggu, 27 Februari 2011
Gadis di Gerimis
Senja itu kuning keemasan mewarnai langit tempat kuberada. Segerombolan manusia mengerumuniku, dan berbagi tawa canda. Adalah benar, mungkin saat itu aku sempat merasa menjadi raja, kendati tiada mahkota.
Namun takdir tak pernah berjudi dengan manusia. Ada pagi, ada malam. Usai senja, tibalah malam suram nan gerimis.
Aku menggigil, meringis, lalu tersungkur meregang nyawa di atas genangan lumpur, suatu ketika gerombolan manusia yang mengerumuniku telah pergi dariku. Hanya tersisa tangis dan nafas pada batin yang merasa kesepian, serupa dedaunan yang haus akan siraman terang sang surya.
Gerimis itu, kau menghampiriku dan memayungiku. Menepuk ringan punggungku seraya bersuara; tegarlah!
Aku menatapmu. Matamu sayu. Bibirmu tersenyum penuh kasih. Tetapi ekspresimu juga terlihat seakan hendak menemaniku bersama-sama menangisi takdir. Ya, kaulah sahabat yang tersisa kala aku tertikam gelap. Hanya kau...
Aku berbisik pada batin; aku mencintaimu. Aku bersumpah ingin mencintaimu tuk selamanya...
Namun, suatu ketika satu malam telah kulalui ditemani olehmu, ketika sang surya merangkak naik, kau telah menghilang. Samar-samar segalanya seolah sebuah mimpi. Aku tak pernah tahu, apakah kau pernah mencintaiku atau tidak.
Aku hanya ingin tetap mematuhi sumpahku tuk mencintaimu selamanya, tak peduli apakah kau masih ada untukku kelak, atau memang sekadar mimpi.
Lea W
kamar renung, 2011
Namun takdir tak pernah berjudi dengan manusia. Ada pagi, ada malam. Usai senja, tibalah malam suram nan gerimis.
Aku menggigil, meringis, lalu tersungkur meregang nyawa di atas genangan lumpur, suatu ketika gerombolan manusia yang mengerumuniku telah pergi dariku. Hanya tersisa tangis dan nafas pada batin yang merasa kesepian, serupa dedaunan yang haus akan siraman terang sang surya.
Gerimis itu, kau menghampiriku dan memayungiku. Menepuk ringan punggungku seraya bersuara; tegarlah!
Aku menatapmu. Matamu sayu. Bibirmu tersenyum penuh kasih. Tetapi ekspresimu juga terlihat seakan hendak menemaniku bersama-sama menangisi takdir. Ya, kaulah sahabat yang tersisa kala aku tertikam gelap. Hanya kau...
Aku berbisik pada batin; aku mencintaimu. Aku bersumpah ingin mencintaimu tuk selamanya...
Namun, suatu ketika satu malam telah kulalui ditemani olehmu, ketika sang surya merangkak naik, kau telah menghilang. Samar-samar segalanya seolah sebuah mimpi. Aku tak pernah tahu, apakah kau pernah mencintaiku atau tidak.
Aku hanya ingin tetap mematuhi sumpahku tuk mencintaimu selamanya, tak peduli apakah kau masih ada untukku kelak, atau memang sekadar mimpi.
Lea W
kamar renung, 2011
Kamis, 17 Februari 2011
About hu3Aoj
Pelan dan lembut
demikianlah kau berjalan
tinggi dan semakin tinggi jauh
meraih impian yang kian berwujud
oleh kasih dan suci hati
seputih jubah putri bidadari
demikianlah kau berjalan
tinggi dan semakin tinggi jauh
meraih impian yang kian berwujud
oleh kasih dan suci hati
seputih jubah putri bidadari
365 hari silam
langit menangisi satu kisah
mengguyur basah tanah Bumi
di mana kita berada
dan melukis kenangan
tapi belum terang sejagat
padam sudah sesaat
masih mengiang ceritamu kala itu
tentang makhluk kecil meregang nyawa
tentang hiruk-pikuk di luar sana
tentang duafa memerangi angin malam
dan tekad tuk membunuh malaikat
yang tak pernah berperasaan
derai airmata pun tak pernah putus
sejak 365 hari silam hingga kini
dan mungkin jua 365 hari hingga kelak
atau hingga maut menjemput
Nona hu3Aoj
ada kasih bersemayam di sendu mata
ada senyum yang mengoyak amarah
ada bisik yang membangunkan asmara
namun tiada jodoh dan harapan
2L, 2011
Langganan:
Postingan (Atom)


